AUDIOBOOK MODE
Klik putar untuk mendengarkan cerita...
Layar Terjaga Aktif
Hidup Bambang hancur lebur hanya dalam waktu satu malam. Pabrik tekstil warisan orang tuanya gulung tikar karena ditipu rekan bisnis, meninggalkan utang miliaran rupiah yang mencekik leher. Setiap hari, penagih utang datang silih berganti, memaki, bahkan mengancam keselamatan istri dan anak semata wayangnya, Rara. Di tengah keputusasaan itu, bisikan setan mulai merasuki pikirannya. Seorang teman lama yang tiba-tiba sukses mendadak pernah bercerita tentang jalan pintas yang ia ambil. "Kalau kamu sudah buntu, cobalah ke Malang," bisik temannya waktu itu. "Di sana ada jalan keluar bagi mereka yang berani. Orang menyebutnya Pesugihan Gunung Kawi." Awalnya Bambang menolak. Ia tahu konsekuensi bermain api dengan dunia gaib. Namun, ketika surat penyitaan rumah datang, akal sehatnya lenyap. Malam itu juga, dengan sisa uang terakhir di dompet, Bambang nekat berangkat ke Jawa Timur. Ia tidak peduli lagi pada dosa atau bahaya. Di kepalanya hanya ada satu tujuan: kaya raya secara instan dan membalas dendam pada orang-orang yang merendahkannya. Sesampainya di lereng gunung yang dingin itu, suasana mistis langsung menyergap. Wangi dupa yang menyengat bercampur dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Bambang melihat banyak orang berpakaian necis turun dari mobil mewah, namun wajah mereka tampak layu dan pucat. Ia bertanya-tanya, apakah mereka juga pencari Pesugihan Gunung Kawi seperti dirinya?
Pertemuan dengan Sang KuncenIlustrasi Pohon Dewandaru yang keramat dan dipercaya memberi kekayaan.
Bambang diarahkan menuju sebuah padepokan kecil untuk menemui Mbah Rejo, salah satu juru kunci atau kuncen di sana. Orang tua itu menatap Bambang dengan sorot mata tajam, seolah bisa membaca seluruh kepedihan dan niat hitam di hatinya. "Kamu yakin mau menempuh jalan ini, Nak? Pesugihan Gunung Kawi bukan tempat meminta sedekah. Ini tempat berdagang. Ada barang, ada harga," suara Mbah Rejo terdengar parau dan berat. Bambang mengangguk mantap. "Saya siap menyerahkan apa saja, Mbah. Asalkan utang saya lunas dan saya bisa kaya kembali." Mbah Rejo tersenyum miring. Ia menjelaskan bahwa Bambang harus menjalani laku prihatin. Ia harus mandi kembang setaman di pemandian keramat, lalu melakukan tapa brata selama tiga hari tiga malam tanpa tidur. Puncaknya adalah melakukan ritual malam Jumat Kliwon tepat di area keramat pesarean Eyang Jugo dan Eyang Sujo. "Ingat," tambah Mbah Rejo. "Kamu tidak boleh pulang sebelum mendapatkan 'tanda'. Biasanya berupa jatuhnya daun atau buah dari pohon keramat di sana. Simpan benda itu di brankas uangmu."
Menunggu Jatuhnya Daun Dewandaru
Malam yang ditentukan tiba. Suasana di kompleks makam sangat sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan desau angin yang menggerakkan dahan pepohonan. Bambang duduk bersila di bawah naungan Pohon Dewandaru, pohon legendaris yang konon ditanam menggunakan tongkat Eyang Jugo. Mitos mengatakan, jika seseorang kejatuhan bagian dari pohon ini baik daun, ranting, atau buahnya maka keinginannya akan terkabul. Bambang memejamkan mata, merapal mantra yang diberikan Mbah Rejo. Keringat dingin mengucur deras meski udara malam itu membekukan. Tiba-tiba, angin kencang berhembus. Bukan angin biasa, melainkan angin yang membawa bau anyir darah. Dari kegelapan, Bambang merasa ada sosok tinggi besar yang berdiri tepat di belakangnya. Napas sosok itu terdengar mendengus di tengkuk Bambang. Ketakutan luar biasa melanda, namun ia ingat pesan sang kuncen: Jangan buka mata sebelum ada yang menyentuhmu. Pluk. Sesuatu yang ringan jatuh tepat di pangkuannya. Bambang memberanikan diri membuka mata. Sebuah daun Pohon Dewandaru yang masih hijau segar tergeletak di sana. Seketika itu juga, sosok mengerikan di belakangnya menghilang, berganti dengan suara tawa lirih yang menggema di kejauhan. "Deal..." bisik sebuah suara di telinganya. Bambang gemetar. Ia menggenggam daun itu erat-erat, seolah itu adalah nyawanya sendiri. Ia berhasil. Ia telah mendapatkan restu dari penunggu Pesugihan Gunung Kawi.
Kejayaan yang Semu
Benar saja, sepulangnya dari Malang, keajaiban terjadi. Sebuah proyek besar tiba-tiba datang padanya tanpa diduga. Utang-utangnya lunas dalam hitungan bulan. Pabriknya kembali beroperasi, bahkan lebih besar dari sebelumnya. Bambang membeli rumah baru, mobil sport, dan memanjakan keluarganya dengan kemewahan. Ia lupa pada peringatan Mbah Rejo tentang "harga" yang harus dibayar. Ia terlena oleh harta. Istrinya, Santi, merasa ada yang aneh. Suaminya sering melamun dan mengurung diri di kamar tempat ia menyimpan daun keramat itu. Rumah mereka yang megah terasa suram dan panas, meski AC menyala 24 jam. Satu tahun berlalu dengan cepat. Tepat pada tanggal yang sama saat Bambang melakukan ritual, petaka itu datang menagih janji.
Bayaran Nyawa yang Tak Terelakkan
Anak Bambang, Rara, tiba-tiba jatuh sakit. Awalnya hanya demam tinggi, namun lama-kelamaan tubuhnya menyusut drastis. Dokter ahli manapun tidak bisa mendiagnosis penyakitnya. Setiap malam, Rara berteriak histeris, menunjuk ke sudut kamar sambil menangis ketakutan. "Ayah... ada orang besar hitam mau bawa Rara... Dia bilang Ayah sudah janji," rintih Rara di suatu malam. Bambang membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia sadar, ini bukan penyakit medis. Ini adalah penagihan tumbal nyawa. Kekayaan yang ia dapatkan dari Gunung Kawi ternyata meminta ganti nyawa orang yang paling ia cintai. Bambang bergegas kembali ke Malang, mencari Mbah Rejo. Ia bersimpuh di kaki sang kuncen, memohon agar kontrak gaib itu dibatalkan. Ia rela jatuh miskin lagi asalkan anaknya selamat. Namun, Mbah Rejo hanya menggeleng lemah. "Sudah terlambat, Nak. Perjanjian dengan Eyang tidak bisa dibatalkan sepihak. Kamu meminta kekayaan instan, dan mereka meminta darah segar dari keturunanmu sebagai gantinya. Itu adalah hukum alam yang kamu langgar." Bambang pulang dengan hampa. Malam itu juga, tepat di malam Jumat Kliwon, Rara menghembuskan napas terakhirnya dengan mata melotot penuh ketakutan. Kini, Bambang hidup bergelimang harta di rumah mewahnya yang sepi. Istrinya menjadi gila karena kehilangan anak, dan Bambang tahu, giliran berikutnya adalah dirinya sendiri. Harta dari Pesugihan Gunung Kawi tidak membawa berkah, melainkan kutukan abadi yang tak akan pernah putus.