← KEMBALI KE BERANDA

Teror Malam Jumat: Kesaksian Penggali Kubur Lihat Mayat Hidup Lagi

Adams
Adams PERINTIS
Login untuk simpan cerita
Jurnalis mewawancarai penggali kubur tentang teror malam jumat di Banyuwangi (ilustrasi)
AUDIOBOOK MODE Klik putar untuk mendengarkan cerita...
Sebagai seorang jurnalis lepas yang sering memburu kisah mistis untuk Horor.id, saya, Adams, sudah terbiasa mendengar cerita hantu. Namun, perjalanan saya ke sebuah desa terpencil di pinggiran Banyuwangi, Jawa Timur, kali ini terasa berbeda. Udara di sini terasa lebih berat, dan tatapan warga desa seolah menyembunyikan rahasia kelam. Tujuan saya satu: menemui Pak Wagiman, seorang penggali kubur senior yang mendadak pensiun dini setelah mengalami sebuah Teror Malam Jumat yang nyaris merenggut kewarasannya.
Kami bertemu di sebuah warung kopi yang hanya berjarak selemparan batu dari Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa yang dinaungi pohon beringin tua. Tangan Pak Wagiman gemetar saat menyalakan rokok klobotnya. Matanya nanar menatap ke arah makam, seolah takut sesuatu akan bangkit dari sana. Inilah kesaksian beliau yang saya tulis ulang untuk Anda.

Firasat Buruk di Tanah Osing

Area pemakaman tua di bawah pohon beringin tempat jenazah Nyi Laras dimakamkan saat Maghrib
Area pemakaman tua di bawah pohon beringin tempat jenazah Nyi Laras dimakamkan saat Maghrib

"Mas Adams tidak akan paham rasanya," buka Pak Wagiman dengan suara serak. "Malam itu bukan malam biasa. Itu adalah malam di mana Teror Malam Jumat benar-benar menampakkan wujud aslinya."

Kejadian ini bermula ketika seorang wanita kaya di desa itu, sebut saja Nyi Laras, meninggal dunia secara mendadak. Semasa hidup, Nyi Laras dikenal sebagai sinden primadona yang kecantikannya tak pernah pudar meski usianya sudah kepala lima. Desas-desus santer terdengar bahwa ia menggunakan susuk pemikat atau pelet dan pesugihan Buto Ijo. Kematiannya yang terjadi tepat pada Kamis sore membuat warga resah. Mereka tahu, pemakaman harus dilakukan segera sebelum matahari terbenam, atau mereka akan menghadapi risiko Teror Malam Jumat Kliwon yang legendaris.

Pak Wagiman dan dua rekannya diperintahkan menggali liang lahat. Anehnya, tanah di area makam keluarga Nyi Laras yang biasanya gembur, hari itu keras seperti batu. Cangkul Pak Wagiman bahkan sempat patah dua kali. "Tanahnya menolak, Mas. Seolah bumi jijik menerima jasadnya," ujar Pak Wagiman. Firasat akan datangnya Teror Malam Jumat mulai menghantui benak sang penggali kubur tua itu.

Baca Juga: Sewu Dino: Teror Santet 1000 Hari yang Tersembunyi di Jakarta Selatan

Prosesi Pemakaman yang Mencekam

Langit Banyuwangi berubah menjadi jingga kemerahan, tanda Maghrib akan tiba. Jenazah Nyi Laras akhirnya dimasukkan ke liang lahat. Saat itulah keanehan kedua terjadi. Tali pocong yang seharusnya mudah dilepas, tiba-tiba tersimpul mati dengan sangat kencang. Modin desa sampai harus memotongnya dengan pisau silet, namun simpul itu seolah hidup dan mengerat kembali.
"Pak Modin berkeringat dingin, Mas. Dia berbisik ke saya, 'Man, cepat timbun. Jangan sampai Teror Malam Jumat ini mendahului kita'," cerita Pak Wagiman menirukan ucapan sang Modin.
Dengan tergesa-gesa, tanah ditimbunkan. Namun, Pak Wagiman bersumpah, saat tanah pertama jatuh menimpa jenazah, ia mendengar suara geraman rendah dari dalam liang. Bukan suara napas terakhir mayat (yang biasa disebut cadaveric spasm), melainkan suara geraman marah. Warga yang melayat bubar lebih cepat dari biasanya. Mereka tidak ingin menjadi saksi mata dari Teror Malam Jumat yang auranya sudah menyelimuti seluruh area pemakaman.

Kebangkitan di Bawah Sinar Bulan

Kesaksian Pak Wagiman saat melihat tangan jenazah menembus tanah makam yang baru ditutup
Kesaksian Pak Wagiman saat melihat tangan jenazah menembus tanah makam yang baru ditutup
Karena tugas belum selesai sepenuhnya, Pak Wagiman tinggal sendirian untuk merapikan gundukan tanah dan menabur bunga. Dua temannya sudah lari pulang dengan alasan sakit perut. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Suasana hening, hanya suara jangkrik dan desau angin hutan yang menemani.
Tiba-tiba, keheningan itu pecah. Teror Malam Jumat itu dimulai.
Srekk... srekk...
Suara itu berasal dari dalam gundukan tanah makam Nyi Laras yang baru saja ia rapikan. Tanah yang padat itu bergerak-gerak, retak dari dalam. Pak Wagiman terpaku. Kakinya lemas seolah dipaku ke tanah. Ia ingin lari, tapi rasa penasaran dan ketakutan membelenggunya. Dalam cahaya bulan yang remang, ia melihat sebuah tangan pucat dengan kuku panjang mencuat keluar dari tanah.
"Itu bukan halusinasi, Mas Adams. Demi Tuhan, itu nyata. Teror Malam Jumat itu nyata!" Pak Wagiman mencengkeram lengan saya kuat-kuat.
Tangan itu menggapai-gapai udara, lalu disusul oleh kepala yang masih terbungkus kain kafan kusam. Kain itu sobek di bagian wajah, memperlihatkan wajah Nyi Laras yang menyeringai mengerikan. Matanya melotot putih tanpa pupil, dan mulutnya yang penuh tanah menyemburkan cairan hitam. Mayat itu mencoba bangkit, merangkak keluar dari kuburnya sendiri.

Pelarian dari Kutukan

Penampakan pocong mayat hidup bangkit dari kubur mengejar warga
Penampakan pocong mayat hidup bangkit dari kubur mengejar warga
Pak Wagiman menjerit sekuat tenaga. Ia melihat sosok itu sepenuhnya keluar dari tanah, berdiri terhuyung-huyung di atas makamnya sendiri. Bau anyir darah dan kapur barus menyeruak, membuat perut mual. Ini adalah puncak dari Teror Malam Jumat yang paling mengerikan dalam sejarah desa tersebut. Sosok jenazah Nyi Laras menoleh kaku ke arah Pak Wagiman, lalu melompat bukan berjalan, melompat seperti Pocong namun dengan gerakan agresif mengejarnya.
"Saya lari, Mas. Saya lari sampai sandal saya putus. Saya tidak berani menoleh ke belakang, tapi saya mendengar suara loncatan gedebuk... gedebuk... di belakang saya," ucap Pak Wagiman dengan napas memburu.
Sesampainya di perbatasan desa, suara itu menghilang. Keesokan paginya, warga gempar menemukan makam Nyi Laras terbongkar berantakan. Jenazahnya ditemukan tergeletak di depan pintu rumahnya sendiri, dalam posisi bersujud menghadap pintu yang terkunci.
Pak Wagiman menutup ceritanya dengan wajah pucat. "Sejak kejadian Teror Malam Jumat itu, saya berhenti jadi penggali kubur. Saya tidak mau lagi berurusan dengan mereka yang punya perjanjian dengan setan."
Saya, Adams, hanya bisa terdiam mencatat kisah ini. Di Banyuwangi, batas antara dunia nyata dan gaib memang setipis kulit bawang. Dan bagi Pak Wagiman, Teror Malam Jumat bukanlah sekadar mitos, melainkan trauma seumur hidup yang tak akan pernah bisa ia kubur.

KOMENTAR NETIZEN 0 Komentar

Ingin ikut berdiskusi tentang cerita ini?

Login Dulu!

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini!