AUDIOBOOK MODE
Klik putar untuk mendengarkan cerita...
Layar Terjaga Aktif
Kereta api Sri Tanjung melaju kencang menembus gelapnya malam menuju Surabaya. Namun, guncangan gerbong tidak sebanding dengan guncangan di dada saya. Di tangan saya, bungkusan kain kafan berisi tanah kuburan itu terasa panas, seolah-olah saya sedang memegang bara api.
Saya baru sadar, ini bukan sekadar tanah biasa. Ini adalah media. Pocong Nyi Laras tidak perlu mengejar saya secara fisik, karena sebagian dari dirinya sudah ada di saku saya. Saya telah dijebak. Sosok itu ingin ikut. Dia ingin keluar dari Banyuwangi.
Sepanjang perjalanan, saya tidak berani memejamkan mata. Setiap kali saya berkedip, bayangan Pocong Nyi Laras dengan wajahnya yang bengkak dan pucat itu muncul di pantulan kaca jendela kereta. Dia berdiri di luar sana, melayang sejajar dengan kecepatan kereta, menatap saya dengan seringai kemenangan.
Penampakan Pocong Nyi Laras berdiri di sudut apartemen
Sesampainya di apartemen saya di Surabaya, waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi. Badan saya remuk redam, tapi saya tahu saya tidak boleh tidur. Pocong Nyi Laras pasti sudah ada di sini.
Saya meletakkan bungkusan tanah itu di meja ruang tamu. Baru sedetik diletakkan, lampu ruangan langsung berkedip liar. Bzzzt... Bzzzt... Suara listrik korslet terdengar nyaring. Hawa dingin yang tidak wajar langsung menyergap, padahal AC sudah saya matikan.
Tiba-tiba, televisi menyala sendiri. Salurannya hanya menampilkan layar semut (statis) dengan suara desis yang memekakkan telinga. Namun, di antara suara desis itu, terdengar lagi tembang Jawa yang menyayat hati.
"Lingsir wengi... sliramu..."
Darah saya berdesir. Pocong Nyi Laras sudah masuk. Dia tidak menunggu malam tiba. Dia menagih janji yang tidak pernah saya buat. Saya sadar, saya sedang berhadapan dengan kutukan tanah kubur yang sangat kuat.
Saya mencoba menelepon Pak Wagiman. Setelah nada sambung kelima, telepon diangkat. "Halo, Pak! Pak Wagiman! Tolong saya, tanahnya ada di tas saya!" teriak saya panik.
Suara di seberang sana terdengar berat dan jauh. "Bakar, Mas... Bakar sekarang sambil baca Ayat Kursi. Jangan sampai dia mewujud utuh..."
KLIK. Sambungan putus.
Duel Gaib Melawan Pocong Nyi Laras
Saya berlari ke dapur, menyambar pemantik api dan sebuah mangkuk keramik. Tangan saya gemetar hebat saat membuka bungkusan kain kafan kusam itu. Bau bangkai menyeruak seketika, memenuhi seluruh unit apartemen seluas 36 meter persegi ini. Bau busuk yang membuat perut mual, bau khas Pocong Nyi Laras.
Saat saya menyalakan korek api, angin kencang entah dari mana bertiup di dalam ruangan tertutup itu, mematikan api saya.
GEDEBUK!
Suara loncatan berat terdengar tepat di belakang saya. Saya menoleh pelan.
Di sana, hanya berjarak satu meter, Pocong Nyi Laras berdiri. Kali ini saya melihatnya sangat jelas. Kain kafannya kotor oleh tanah liat basah. Tali pocongnya menjuntai panjang. Wajahnya... Astaga, wajahnya hancur. Kulitnya melepuh seperti bekas terbakar air keras. Matanya yang putih melotot seolah ingin menelan saya hidup-hidup.
Dia tidak lagi diam. Pocong Nyi Laras melompat maju menyerang saya!
Saya berguling ke samping, menghindari tubuh kaku itu yang menabrak meja makan hingga hancur berantakan. Kekuatannya tidak masuk akal. Ini bukan halusinasi. Ini fisik! Kutukan tanah kubur ini memberinya energi untuk menyakiti manusia.
"Pergi! Pergi kamu!" teriak saya sambil terus memantik korek api yang macet.
Pocong Nyi Laras kembali bangkit. Dia tidak punya kaki, tapi loncatannya sangat cepat. Dia memojokkan saya ke dinding dapur. Bau napasnya yang busuk menerpa wajah saya. Saya bisa melihat belatung yang menggeliat di sudut bibirnya yang robek.
Api Penyuci dan Jeritan Terakhir
Sisa pembakaran jimat yang mengakhiri teror Pocong Nyi Laras
Dalam kepanikan puncak, saya teringat korek api gas (zippo) di saku celana saya. Saya menyambarnya, menyalakannya, dan langsung melemparkannya ke tumpukan tanah dan kain kafan di lantai.
WUSH!
Api menyambar kain kafan tua yang kering itu. Saat api mulai membesar, Pocong Nyi Laras menjerit.
"AAAAARRRGGGHHH!!!"
Suaranya bukan suara manusia. Itu suara ribuan penderitaan yang digabung menjadi satu. Sosok Pocong Nyi Laras yang sedang berdiri di depan saya tiba-tiba terbakar. Tubuhnya menggeliat-geliat, kain kafannya menghitam, dan asap tebal keluar dari pori-pori kulit mayatnya.
Saya terus merapalkan Ayat Kursi sekeras-kerasnya, meski suara saya parau karena asap.
Perlahan tapi pasti, sosok Pocong Nyi Laras itu memudar menjadi asap hitam yang pekat, lalu tersedot masuk ke dalam api kecil yang membakar tanah kuburan itu. Kutukan tanah kubur itu sedang dihancurkan.
Apartemen saya berguncang hebat seperti gempa bumi lokal. Kaca jendela pecah berhamburan. Lalu, hening.
Api di lantai padam dengan sendirinya, menyisakan abu hitam yang berbau belerang. Pocong Nyi Laras sudah pergi.
Akhir yang Membekas
Saya terduduk lemas di lantai dapur, dikelilingi pecahan kaca. Matahari pagi mulai menyelinap masuk lewat jendela yang pecah. Saya selamat.
Namun, teror Pocong Nyi Laras meninggalkan bekas yang permanen. Bukan hanya apartemen saya yang hancur, tapi juga mental saya. Sejak kejadian itu, saya tidak pernah berani lagi meliput berita mistis sendirian. Saya bahkan pindah dari apartemen itu karena setiap malam Jumat, tetangga sering mendengar suara tembang Jawa dari unit bekas saya.
Pak Wagiman benar. Ada hal-hal di dunia ini yang sebaiknya dibiarkan terkubur. Menggali kisah mereka sama saja dengan menggali kubur kita sendiri.
Bagi kalian yang membaca tulisan ini, jika kalian merasa ada yang mengawasi dari sudut ruangan saat membaca nama Pocong Nyi Laras, saran saya hanya satu: Jangan menoleh.
Karena mungkin, dia sedang mencari tumpangan baru untuk pulang.