← KEMBALI KE BERANDA

Teror Mayat Hidup Banyuwangi: Saya Diikuti Sosok Pocong Sinden Sampai Kamar Hotel! (Part 2)

Adams
Adams PERINTIS
Login untuk simpan cerita
Ilustrasi perjalanan pulang Adams yang dicekam teror mayat hidup di jalanan sepi Banyuwangi.
AUDIOBOOK MODE Klik putar untuk mendengarkan cerita...

Warung kopi itu sudah tutup sejak sepuluh menit yang lalu. Pak Wagiman, narasumber saya, pamit dengan tergesa-gesa seolah ada sesuatu yang mengejarnya. Meninggalkan saya sendirian di bawah pohon beringin tua yang menjadi saksi bisu kisah Nyi Laras. Angin malam di pinggiran Banyuwangi ini menusuk tulang, tapi keringat dingin justru mengucur deras di punggung saya.

Saya membereskan alat rekam dan buku catatan. Kisah Pak Wagiman tentang teror mayat hidup Nyi Laras yang bangkit dari kubur benar-benar mengganggu kewarasan saya. Sebagai jurnalis, saya harus skeptis. Tapi, atmosfer di desa ini berkata lain. Udara terasa tebal dan berbau anyir, persis seperti deskripsi Pak Wagiman saat teror mayat hidup itu muncul puluhan tahun lalu.

Saya menyalakan motor sewaan. Lampu sorotnya yang redup hanya mampu menerangi jalanan aspal rusak sejauh tiga meter ke depan. Pikiran saya melayang, mencoba merangkai kata untuk artikel. Namun, mendadak motor saya tersendat. Mesinnya mati mendadak tepat di persimpangan menuju makam keramat desa. Dan di situlah, teror mayat hidup yang saya anggap dongeng itu mulai merambati nadi saya.

Kidung Jawa di Tengah Hutan Bambu

Penampakan sosok pocong di spion motor sebagai awal teror mayat hidup yang dialami Adams.
Penampakan sosok pocong di spion motor sebagai awal teror mayat hidup yang dialami Adams.
Saya mencoba menstarter motor berkali-kali, tapi nihil. Hening. Benar-benar hening, sampai suara jangkrik pun seolah takut untuk bersuara. Di tengah kebisuan itu, sayup-sayup terdengar suara senandung.
"Lingsir wengi... sliramu tumeking sirno..."
Suara wanita. Melengking tinggi, menyayat hati, melantunkan tembang Durma dalam bahasa Jawa halus. Bulu kuduk saya langsung berdiri tegak. Itu bukan suara radio warga. Suara itu berasal dari arah rimbunan pohon bambu di sebelah kiri saya. Saya teringat cerita Pak Wagiman: Nyi Laras adalah sinden primadona sebelum mati dan menebar teror mayat hidup ke seluruh desa.
Apakah ini mungkin? Apakah tulisan saya tentang teror mayat hidup ini telah "membangunkan" sesuatu yang seharusnya tetap tertidur?
Saya memaksakan motor menyala, dan brebet! Akhirnya mesin menderu. Tanpa pikir panjang, saya tancap gas. Namun, perasaan diawasi itu semakin kuat. Di spion motor yang bergetar, sekilas saya melihat sekelebat kain putih lusuh melayang di antara pepohonan. Jantung saya berpacu lebih cepat dari putaran roda motor. Saya sadar, saya sedang lari dari potensi teror mayat hidup yang nyata.

Ketukan Pintu Hotel yang Membawa Pesan Kematian

Kain kafan dan tanah kuburan yang muncul di celah pintu hotel, menandakan teror mayat hidup Nyi Laras telah tiba
Kain kafan dan tanah kuburan yang muncul di celah pintu hotel, menandakan teror mayat hidup Nyi Laras telah tiba
Pukul 01.00 dini hari, saya sampai di penginapan kecil di pusat kota Banyuwangi. Saya pikir, menjauh dari desa itu akan menghentikan teror mayat hidup yang membayangi saya. Saya salah besar. Jarak geografis ternyata tidak berlaku bagi mereka yang terikat perjanjian gaib.
Kamar saya ada di lantai dua, di ujung lorong yang lampunya berkedip-kedip mau mati. Sesampainya di kamar, saya langsung melempar tas ke kasur dan masuk ke kamar mandi untuk membasuh muka. Bau anyir darah dan kapur barus yang sempat saya cium di jalan tadi, ternyata masih menempel. Baunya seolah berasal dari baju saya sendiri.
Saat saya sedang mengeringkan wajah dengan handuk, terdengar suara.
Sreeek... Sreeek...
Suara seperti kain kasar yang diseret di lantai keramik. Suara itu berhenti tepat di depan pintu kamar saya. Jantung saya seakan berhenti berdetak. Logika jurnalis saya bertarung dengan insting purba manusia. Siapa yang menyeret kain tengah malam begini? Apakah teror mayat hidup itu mengikuti saya sampai ke sini?
TOK... TOK...
Ketukan pelan. Bukan ketukan tangan, melainkan seperti benturan benda keras. Mungkin kepala?
"Siapa?" tanya saya, suara saya bergetar.
Hening. Lalu, suara senandung itu terdengar lagi. Kali ini jauh lebih jelas, tepat dari balik pintu kayu kamar saya. Tembang sinden yang sama. Bau kapur barus menyeruak masuk lewat celah bawah pintu, memenuhi ruangan dengan aroma kematian yang menyesakkan. Saya mundur perlahan, menjauhi pintu. Teror mayat hidup ini bukan lagi sekadar observasi liputan, saya kini menjadi targetnya.
Saya meraih HP, berniat menelepon resepsionis atau bahkan Pak Wagiman. Tapi sinyal di HP saya mendadak hilang total. Layarnya berkedip-kedip, menampilkan statis sebelum akhirnya mati total. Saya terjebak.

Wajah Rusak di Balik Jendela

Pintu kamar tidak dibuka, tapi suhu ruangan turun drastis. Saya merasa ada yang salah dengan jendela kamar yang menghadap ke balkon luar. Gordennya sedikit bergoyang, padahal jendela tertutup rapat.

Perlahan, saya memberanikan diri mendekat. Rasa penasaran sialan ini memang penyakit jurnalis. Saya menyibakkan sedikit gorden itu.

DHEG!

Mata saya membelalak. Di sana, di balik kaca, sebuah wajah menempel. Bukan wajah manusia. Wajah itu bengkak, pucat pasi, dengan kulit yang mengelupas di sana-sini. Kapas kotor menyumbat hidungnya, dan tali pocong di atas kepalanya terikat kencang namun miring.

Itu dia. Sosok yang diceritakan Pak Wagiman. Jenazah Nyi Laras.

Dia tidak melayang. Dia berdiri atau mungkin melompat hingga bisa mencapai lantai dua ini. Matanya yang putih tanpa pupil menatap lurus ke arah saya, menembus jiwa saya. Mulutnya yang kaku bergerak pelan, seolah mengucapkan sesuatu tanpa suara.

"Balekno..." (Kembalikan...)

Saya terjatuh ke belakang, merangkak menjauhi jendela. Teror mayat hidup ini menginginkan sesuatu. Apa yang harus dikembalikan? Saya tidak mengambil apa pun dari makam itu! Atau... apakah tulisan saya? Apakah kesaksian Pak Wagiman yang saya rekam adalah hal yang "dicuri" dari mereka?

Sosok itu mulai memukulkan kepalanya ke kaca. DUG! DUG! DUG! Kaca jendela mulai retak. Teror mayat hidup itu ingin masuk! Kepanikan melanda saya. Saya menyambar tas, tidak peduli dengan baju ganti, dan lari menuju pintu. Saya lebih memilih menghadapi lorong gelap daripada satu ruangan dengan makhluk itu.

Saya membuka pintu kamar dan berlari sekuat tenaga menuruni tangga. Saya tidak menoleh ke belakang, meskipun telinga saya mendengar suara loncatan berat gedebuk... gedebuk... mengikuti saya dari lantai atas.

Baca Juga: Sewu Dino: Teror Santet 1000 Hari yang Tersembunyi di Jakarta Selatan

Trauma yang Tak Akan Hilang

Sekarang, saya menulis bagian kedua ini dari dalam kereta api yang membawa saya pulang ke Surabaya. Matahari sudah terbit, tapi bayangan teror mayat hidup semalam masih melekat erat.

Saya selamat setelah lari ke pos satpam hotel. Ketika satpam memeriksa ke atas, tidak ada siapa-siapa. Tapi dia menemukan sesuatu yang membuat wajahnya pucat: di depan pintu kamar dan di jendela luar, terdapat jejak tanah merah basah dan bau bunga kamboja yang sangat menyengat.

Saya pikir tugas saya selesai setelah menuliskan kisah ini. Tapi saat saya membuka kembali tas saya di kereta ini, saya menemukan segumpal tanah merah yang terbungkus potongan kain kafan kusam terselip di saku jaket saya.

Darah saya berdesir. Teror mayat hidup Nyi Laras belum selesai. Dia menitipkan sesuatu pada saya. Atau mungkin... dia sedang menandai ke mana saya pergi selanjutnya?

Bagi Anda pembaca Horor.id, berhati-hatilah. Kadang, membaca kisah nyata seperti ini sama saja dengan mengundang mereka untuk hadir di samping Anda. Jika sekarang Anda mencium bau kapur barus yang samar, mungkin teror mayat hidup itu kini sedang giliran menatap Anda.

(Bersambung... atau mungkin berakhir di sini jika saya tidak selamat malam ini)

KOMENTAR NETIZEN 0 Komentar

Ingin ikut berdiskusi tentang cerita ini?

Login Dulu!

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini!