← KEMBALI KE BERANDA

Akhir Teror: Pembersihan Rumah Trenggalek, Dia Menjerit!

Leony M
Leony M PERINTIS
Login untuk simpan cerita
Leony berlari mencari pertolongan untuk melakukan pembersihan rumah Trenggalek di tengah badai
AUDIOBOOK MODE Klik putar untuk mendengarkan cerita...
Napas saya memburu, bercampur dengan air hujan yang menampar wajah. Saya tidak peduli lagi dengan lumpur yang mengotori piyama. Bungkusan kain kafan berisi tulang itu saya genggam erat, seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak. Tujuan saya hanya satu: gubuk Pak Slamet di ujung perkebunan.
Sesampainya di sana, saya menggedor pintu kayu jati itu dengan brutal. Pak Slamet membuka pintu, wajah tuanya tidak menunjukkan keterkejutkan, seolah dia sudah tahu saya akan datang membawa petaka ini.
"Bapak tahu ini kan?!" teriak saya di tengah gemuruh petir.
Pak Slamet menatap bungkusan di tangan saya, lalu menghela napas panjang. "Masuk, Nduk. Malam ini kita harus selesaikan apa yang Mbah Sastro mulai. Kita harus melakukan pembersihan rumah Trenggalek ini sekarang juga, atau nyawamu tidak akan selamat sampai pagi."

Rahasia Kelam Sang Penari

Persiapan ritual pembersihan rumah Trenggalek oleh Pak Slamet untuk mengungkap sejarah kelam
Persiapan ritual pembersihan rumah Trenggalek oleh Pak Slamet untuk mengungkap sejarah kelam

Di dalam gubuknya yang sempit namun hangat, Pak Slamet akhirnya membongkar sejarah kelam itu. Sosok penari yang selama ini meneror saya bukanlah jin sembarangan. Dia adalah "Khodam" penjaga yang diikat oleh kakek saya puluhan tahun lalu melalui sebuah perjanjian.

"Mbahmu dulu ingin kebun duriannya sukses dan rumahnya aman dari maling. Dia mengikat sukma seorang penari ronggeng yang meninggal tidak wajar," jelas Pak Slamet dengan suara bergetar. "Tapi Mbahmu lupa, setiap perjanjian butuh perawatan. Saat beliau meninggal, tidak ada yang merawat sukma itu. Dia kelaparan. Dia marah."

Saya merinding. Ternyata gangguan supranatural yang saya alami adalah jeritan minta tolong yang terdistorsi menjadi amarah. Tulang dan foto dalam bungkusan itu adalah media pengikatnya. Untuk mengakhiri ini, kami harus melakukan ritual ruwatan sederhana: memusnahkan media tersebut dengan api.

"Kita tidak bisa membakarnya di sini. Harus di lokasi ditemukannya. Di sumur itu," tegas Pak Slamet.

Meski kaki saya lemas, saya tahu tidak ada pilihan lain. Proses pembersihan rumah Trenggalek ini menuntut keberanian terakhir saya. Kami kembali ke rumah joglo itu, menembus hujan yang anehnya tiba-tiba berhenti, menyisakan kesunyian yang jauh lebih mencekam.

Ritual Pembakaran Jimat

Proses pembakaran jimat saat ritual pembersihan rumah Trenggalek yang menegangkan
Proses pembakaran jimat saat ritual pembersihan rumah Trenggalek yang menegangkan
Kami berjongkok di dekat sumur tua. Pak Slamet menyiapkan tungku tanah liat kecil, menaburkan garam kasar mengelilingi kami sebagai pagar gaib sementara. Beliau mulai merapalkan mantra Jawa Kuno, suaranya berat dan berwibawa, melawan aura dingin yang mencoba menekan dada kami.
"Bakar, Nduk. Ikhlaskan," perintah Pak Slamet.
Dengan tangan gemetar, saya melempar bungkusan pocong mini itu ke dalam api yang sudah disiapkan.
Awalnya, api itu seolah enggan melahap kain yang basah dan kotor itu. Namun, saat Pak Slamet menyiramkan sedikit minyak khusus, api langsung menyambar hebat. Dan saat itulah, kengerian puncak terjadi.
SREEEEKKK!!!!
Bukan suara api yang membakar kayu, melainkan suara jeritan wanita yang melengking tinggi, menyayat hati, dan memecahkan gendang telinga. Suara itu muncul dari dalam api. Asap hitam pekat membumbung tinggi, berputar-putar membentuk siluet wanita dengan rambut terurai panjang.
Saya menutup telinga, air mata mengalir deras. Pembersihan rumah Trenggalek ini terasa begitu menyakitkan. Saya bisa merasakan kesedihan dan kemarahan sosok itu yang perlahan terurai oleh panasnya api. Dia tidak ingin pergi, tapi dia juga tidak sanggup bertahan.
"Pulanglah ke alammu! Perjanjian sudah putus!" teriak Pak Slamet sambil menepuk tanah tiga kali.

Fajar Baru di Trenggalek

Suasana damai setelah pembersihan rumah Trenggalek selesai dilakukan
Suasana damai setelah pembersihan rumah Trenggalek selesai dilakukan
Jeritan itu perlahan memudar seiring dengan habisnya bungkusan kain kafan menjadi abu. Angin kencang yang sedari tadi berputar di sekitar sumur tiba-tiba berhenti total. Hening. Tapi kali ini, keheningan yang damai, bukan yang mencekam.
Saya jatuh terduduk, tenaga saya terkuras habis. Pak Slamet mengusap bahu saya. "Sudah selesai, Nduk. Dia sudah bebas."
Keesokan paginya, saya terbangun di kamar saya sendiri. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, saya tidur tanpa mimpi buruk. Sinar matahari menerobos masuk lewat jendela, menghangatkan lantai tegel yang dulu selalu terasa dingin. Hawa lembap dan bau melati busuk itu lenyap tak berbekas.
Proses pembersihan rumah Trenggalek ini berhasil menetralisir energi jahat yang selama ini bersemayam. Meski rasa takut itu masih menyisakan trauma, saya memutuskan untuk tidak pindah. Rumah ini adalah warisan, dan sekarang, rumah ini sudah benar-benar kosong dalam arti yang baik.
Menjadi indigo memang melelahkan. Tapi pengalaman ini mengajarkan saya satu hal: tidak semua hantu ingin mengganggu. Terkadang, mereka hanya ingin didengar dan dibebaskan dari janji manusia yang egois.
Kini, jika malam tiba, hanya suara jangkrik dan gesekan daun durian yang terdengar. Tidak ada lagi gamelan. Tidak ada lagi penari di dapur. Trenggalek akhirnya menjadi rumah yang sesungguhnya bagiku.

(TAMAT)

KOMENTAR NETIZEN 0 Komentar

Ingin ikut berdiskusi tentang cerita ini?

Login Dulu!

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini!