Gangguan Jin di Rumah Tua Trenggalek: Ia Menari di Dapur
Namaku Leony. Orang-orang sering bertanya, bagaimana rasanya memiliki "kelebihan"? Bagiku, ini bukan kelebihan, melainkan sebuah kutukan yang harus kujalani dengan hening. Menjadi seorang indigo berarti tidak pernah benar-benar sendirian, bahkan di tempat yang paling sepi sekalipun.
Kepindahanku ke Kabupaten Trenggalek minggu lalu seharusnya menjadi awal yang tenang. Aku ingin menjauh dari hiruk-pikuk Surabaya (tempat kerja saat ini) yang bising baik oleh suara manusia maupun jeritan mereka yang tak terlihat. Ayah mewarisi sebuah rumah joglo tua di pinggiran kota, dekat dengan area perkebunan durian yang rimbun. Udaranya sejuk, khas daerah pegunungan, namun ada "dingin" yang berbeda saat pertama kali aku melangkahkan kaki di teras rumah ini.
Sebagai orang yang peka, aku langsung tahu. Ada sesuatu yang salah. Gangguan jin di rumah tua Trenggalek ini bukan sekadar cerita isapan jempol tetangga yang mencoba menakut-nakuti pendatang baru. Ada sejarah yang tertinggal di sini, menempel pada tiang-tiang kayu jati yang mulai lapuk.
Hawa Dingin yang Tak Wajar
Teror Suara Gamelan Tengah Malam
Penampakan di Sudut Dapur
Dapur rumah ini masih mempertahankan gaya lama dengan tungku kayu yang sudah tidak terpakai di sudut ruangan. Aroma di sini selalu aneh, campuran antara bau tanah basah dan... bau melati yang sangat menyengat.
Saat aku menyalakan lampu dapur yang remang-remang, mataku langsung tertuju ke sudut ruangan, dekat pintu belakang yang terkunci rapat.
Di sana, berdiri sosok tak kasat mata bagi orang biasa, namun sangat jelas bagiku. Seorang wanita. Rambutnya panjang terurai hingga menyentuh lantai yang kotor. Ia mengenakan kebaya lusuh yang warnanya sudah memudar menjadi abu-abu. Ia tidak menapak tanah.
Yang membuat darahku berdesir hebat adalah gerakannya. Dia tidak diam. Dia menari. Tangannya meliuk-liuk pelan, mengikuti irama gamelan yang tadi kudengar, meski sekarang telingaku tak lagi menangkap suara musik itu. Kepalanya tertunduk, tapi aku bisa merasakan dia sedang "melihat" ke arahku.
"Kamu siapa?" tanyaku dengan suara bergetar.
Sosok itu berhenti menari. Perlahan, kepalanya mendongak. Tidak ada wajah hantu yang hancur atau berdarah seperti di film horor. Wajahnya pucat pasi, datar, tanpa ekspresi, namun tatapan matanya kosong dan hitam pekat, seolah menyedot seluruh cahaya di ruangan itu.
Tiba-tiba, dia menyeringai lebar. Lebar sekali hingga tak wajar.
BRAKK!!
Panci yang tergantung di dinding jatuh tepat di kakiku. Aku terlonjak kaget. Saat aku melihat ke depan lagi, sosok itu sudah hilang. Tapi, tawa cekikikan yang melengking kini terdengar jelas tepat di samping telinga kiriku.
"Hihihi... Selamat datang..."
Malam itu, aku tahu bahwa gangguan jin di rumah tua Trenggalek ini baru saja dimulai. Mereka tidak sekadar lewat. Mereka ingin aku pergi, atau mungkin... mereka ingin aku menjadi bagian dari mereka.
(Bersambung ke Part 2)