โ† KEMBALI KE BERANDA

Gangguan Jin di Rumah Tua Trenggalek: Ia Menari di Dapur

Leony M
Leony M PERINTIS
Login untuk simpan cerita
Suasana mencekam gangguan jin di rumah tua Trenggalek dengan arsitektur Jawa kuno saat senja
AUDIOBOOK MODE Klik putar untuk mendengarkan cerita...

Namaku Leony. Orang-orang sering bertanya, bagaimana rasanya memiliki "kelebihan"? Bagiku, ini bukan kelebihan, melainkan sebuah kutukan yang harus kujalani dengan hening. Menjadi seorang indigo berarti tidak pernah benar-benar sendirian, bahkan di tempat yang paling sepi sekalipun.

Kepindahanku ke Kabupaten Trenggalek minggu lalu seharusnya menjadi awal yang tenang. Aku ingin menjauh dari hiruk-pikuk Surabaya (tempat kerja saat ini) yang bising baik oleh suara manusia maupun jeritan mereka yang tak terlihat. Ayah mewarisi sebuah rumah joglo tua di pinggiran kota, dekat dengan area perkebunan durian yang rimbun. Udaranya sejuk, khas daerah pegunungan, namun ada "dingin" yang berbeda saat pertama kali aku melangkahkan kaki di teras rumah ini.

Sebagai orang yang peka, aku langsung tahu. Ada sesuatu yang salah. Gangguan jin di rumah tua Trenggalek ini bukan sekadar cerita isapan jempol tetangga yang mencoba menakut-nakuti pendatang baru. Ada sejarah yang tertinggal di sini, menempel pada tiang-tiang kayu jati yang mulai lapuk.

Hawa Dingin yang Tak Wajar

Lorong gelap yang menjadi pusat gangguan jin di rumah tua Trenggalek dengan bayangan samar
Lorong gelap yang menjadi pusat gangguan jin di rumah tua Trenggalek dengan bayangan samar
Malam pertama, aku mencoba mengabaikan mata batin yang terus berdenyut. Rasanya seperti ada jarum halus yang menusuk di belakang kepalaโ€”tanda bahwa ada entitas yang sedang mengawasi. Rumah ini besar, terlalu besar untuk ditinggali sendirian. Lantainya masih tegel kuno yang dingin, dan setiap langkah kaki akan menggema ke seluruh ruangan.
Pukul sepuluh malam, aku sedang membongkar kardus di ruang tengah ketika suhu ruangan mendadak turun drastis. Bukan dingin karena angin malam Trenggalek, tapi dingin yang menusuk tulang dan membuat bulu kuduk berdiri serentak. Ini adalah tanda paling umum dari gangguan jin di rumah tua Trenggalek yang sering disepelekan orang awam.
"Permisi," bisikku pelan, sebuah kebiasaan lama untuk meminta izin pada "penghuni lama".
Namun, tidak ada jawaban. Justru, yang kudapat adalah suara gesekan kayu dari arah kamar belakang. Srek... srek... Seperti ada seseorang yang menyeret kursi berat dengan sangat pelan, seolah sengaja ingin memancing perhatianku. Aku tahu aku tidak boleh takut, karena rasa takut adalah makanan bagi mereka. Tapi, energi negatif di ruangan ini begitu pekat, seakan menekan dadaku hingga sesak.
Aku mencoba menyalakan Murottal dari ponselku, berharap ayat suci bisa menetralisir keadaan. Namun, baru beberapa detik menyala, ponselku mati total padahal baterai masih penuh. Di situlah aku sadar, aku tidak diterima di sini.

Teror Suara Gamelan Tengah Malam

Ilustrasi alat musik gamelan tua yang sering terdengar saat terjadi gangguan jin di rumah tua Trenggalek
Ilustrasi alat musik gamelan tua yang sering terdengar saat terjadi gangguan jin di rumah tua Trenggalek
Malam kedua jauh lebih parah. Aku terbangun tepat pukul 02.00 dini hari. Suasana Trenggalek yang sunyi senyap membuat suara jangkrik terdengar sangat nyaring. Tapi, ada suara lain yang menyusup di antara keheningan itu.
Sayup-sayup, terdengar suara gamelan. Nang... ning... nung... gong.
Iramanya lambat, mendayu-dayu, dan sangat menyedihkan. Awalnya aku pikir itu suara dari radio tetangga atau mungkin ada pertunjukan wayang kulit di desa sebelah. Tapi logikaku menolak. Suara itu terlalu dekat. Terlalu jernih. Sumber suaranya bukan dari luar, melainkan dari dalam rumah ini sendiri.
Aku duduk di tepi ranjang, keringat dingin mulai membasahi dahi. Gangguan jin di rumah tua Trenggalek ini mulai bermain-main dengan psikisku. Suara gamelan itu semakin kencang, seolah-olah dimainkan tepat di ruang tamu.
Dengan memberanikan diri, aku membuka pintu kamar. Lorong rumah gelap gulita. Hanya cahaya bulan yang menembus ventilasi udara, menciptakan bayangan panjang yang menyeramkan di lantai. Saat aku melangkah keluar, suara gamelan itu tiba-tiba berhenti. Hening. Kesunyian yang justru lebih menakutkan daripada suara gaduh.
Tiba-tiba, dari arah dapur, terdengar suara gelas berdenting. Ting!
Jantungku berpacu cepat. Aku berjalan perlahan menuju dapur, memastikan tidak ada pencuri. Tapi jauh di lubuk hatiku, aku tahu ini bukan manusia. Sosok tak kasat mata itu sedang mengundangku untuk bermain.

Penampakan di Sudut Dapur

Penampakan sosok tak kasat mata di sudut dapur saat puncak gangguan jin di rumah tua Trenggalek
Penampakan sosok tak kasat mata di sudut dapur saat puncak gangguan jin di rumah tua Trenggalek

Dapur rumah ini masih mempertahankan gaya lama dengan tungku kayu yang sudah tidak terpakai di sudut ruangan. Aroma di sini selalu aneh, campuran antara bau tanah basah dan... bau melati yang sangat menyengat.

Saat aku menyalakan lampu dapur yang remang-remang, mataku langsung tertuju ke sudut ruangan, dekat pintu belakang yang terkunci rapat.

Di sana, berdiri sosok tak kasat mata bagi orang biasa, namun sangat jelas bagiku. Seorang wanita. Rambutnya panjang terurai hingga menyentuh lantai yang kotor. Ia mengenakan kebaya lusuh yang warnanya sudah memudar menjadi abu-abu. Ia tidak menapak tanah.

Yang membuat darahku berdesir hebat adalah gerakannya. Dia tidak diam. Dia menari. Tangannya meliuk-liuk pelan, mengikuti irama gamelan yang tadi kudengar, meski sekarang telingaku tak lagi menangkap suara musik itu. Kepalanya tertunduk, tapi aku bisa merasakan dia sedang "melihat" ke arahku.

"Kamu siapa?" tanyaku dengan suara bergetar.

Sosok itu berhenti menari. Perlahan, kepalanya mendongak. Tidak ada wajah hantu yang hancur atau berdarah seperti di film horor. Wajahnya pucat pasi, datar, tanpa ekspresi, namun tatapan matanya kosong dan hitam pekat, seolah menyedot seluruh cahaya di ruangan itu.

Tiba-tiba, dia menyeringai lebar. Lebar sekali hingga tak wajar.

BRAKK!!

Panci yang tergantung di dinding jatuh tepat di kakiku. Aku terlonjak kaget. Saat aku melihat ke depan lagi, sosok itu sudah hilang. Tapi, tawa cekikikan yang melengking kini terdengar jelas tepat di samping telinga kiriku.

"Hihihi... Selamat datang..."

Malam itu, aku tahu bahwa gangguan jin di rumah tua Trenggalek ini baru saja dimulai. Mereka tidak sekadar lewat. Mereka ingin aku pergi, atau mungkin... mereka ingin aku menjadi bagian dari mereka.


(Bersambung ke Part 2)

KOMENTAR NETIZEN 0 Komentar

Ingin ikut berdiskusi tentang cerita ini?

Login Dulu!

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini!