Misteri Sumur Tua Trenggalek: Aku Menemukan Bungkusan Pocong
Pagi itu langit Trenggalek mendung pekat, seolah alam turut merasakan kegelisahan yang berkecamuk di dadaku. Pesan dari sosok wanita merangkak semalam "Cari di sumur belakang" terus terngiang seperti rekaman rusak. Aku tahu, melangkah ke halaman belakang sama saja dengan menantang bahaya, tapi membiarkan misteri sumur tua Trenggalek ini terkubur justru akan membahayakanku lebih jauh.
Bermodal cangkul kecil dan keberanian yang dipaksakan, aku berjalan menuju area belakang rumah. Area ini jarang terjamah. Rumput ilalang setinggi pinggang tumbuh liar, menyembunyikan tanah yang lembap dan licin. Di pojok paling ujung, di bawah naungan pohon nangka besar yang daunnya rimbun mencekam, terdapat sumur tua itu.
Bibir sumur tua Trenggalek terbuat dari batu kali yang disusun kasar, kini sudah tertutup lumut hijau tebal. Aura di sini berbeda. Jika di dalam rumah hawanya dingin menusuk, di sini hawanya panas dan berat. Dadaku sesak, seolah oksigen di sekitarnya menipis. Ini adalah pusat energi negatif, titik nol dari segala gangguan supranatural yang kualami.
Penggalian yang Mencekam
Aku mulai membersihkan semak-semak di sekitar bibir sumur. Tiba-tiba, angin kencang berhembus entah dari mana, membuat pohon nangka di atasku bergoyang hebat. Kretek... kretek... Suara dahan patah terdengar nyaring, disusul suara tawa cekikikan yang seolah berasal dari dalam sumur tua Trenggalek.
"Hihihi... Jangan diambil..."
Suara itu. Suara wanita semalam.
Tanganku gemetar memegang cangkul, tapi aku tidak boleh mundur. Mata batinku menangkap pendar cahaya merah samar yang memancar dari tanah di sisi timur sumur. Di situlah letaknya. Dengan napas tertahan, aku mulai menggali tanah merah yang basah itu.
Baru sedalam dua jengkal, cangkulku membentur sesuatu yang keras namun bukan batu. Dug.
Jantungku berdegup kencang. Perlahan, aku menyingkirkan tanah dengan tangan kosong. Bau busuk yang menyengat langsung menyeruak keluar, bau bangkai bercampur kemenyan bakar. Dan di sana, terkubur sebuah bungkusan.
Benda itu terbungkus kain putih lusuh yang sudah kecokelatan karena tanah. Kain kafan. Ukurannya kecil, seukuran lengan bayi, diikat di tiga bagian layaknya bungkusan kain kafan pocong mini.
Benda Keramat Peninggalan Leluhur
Aku mengangkat bungkusan itu dengan tangan gemetar. Beratnya tidak wajar. Saat aku merabanya, terasa ada benda keras di dalamnya. Insting indigoku berteriak keras: JANGAN DIBUKA! Tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya.
Perlahan, aku membuka ikatan tali pocong yang sudah lapuk itu. Isinya membuat darahku berdesir ngeri.
Di dalamnya terdapat tulang belulang kecil mungkin tulang ayam atau hewan lain yang dililit dengan rambut panjang manusia. Di sela-sela tulang itu, terselip sebuah foto hitam putih yang sudah buram. Foto seorang wanita cantik dengan kebaya lawas, wanita yang sama dengan sosok penari yang kulihat di dapur!
Di balik foto itu, tertulis aksara Jawa kuno dengan tinta merah yang sudah memudar. Aku tidak bisa membacanya dengan jelas, tapi energi jahat yang memancar dari tulisan itu begitu kuat hingga membuat kepalaku pening seketika.
Ini adalah rajah. Sebuah media pengikat perjanjian. Ternyata benar kata Pak Slamet, ada perjanjian lama yang dibuat di sini. Mbah Sastro, kakekku, mungkin pernah "mengikat" sosok penari ini untuk menjaga rumah atau kebun, namun perjanjian itu tidak diakhiri dengan benar saat beliau meninggal. Akibatnya, sosok itu terperangkap, marah, dan menuntut pembebasan.