← KEMBALI KE BERANDA

Misteri Sumur Tua Trenggalek: Aku Menemukan Bungkusan Pocong

Leony M
Leony M PERINTIS
Login untuk simpan cerita
Penampakan angker lokasi misteri sumur tua Trenggalek yang tertutup semak belukar
AUDIOBOOK MODE Klik putar untuk mendengarkan cerita...

Pagi itu langit Trenggalek mendung pekat, seolah alam turut merasakan kegelisahan yang berkecamuk di dadaku. Pesan dari sosok wanita merangkak semalam "Cari di sumur belakang" terus terngiang seperti rekaman rusak. Aku tahu, melangkah ke halaman belakang sama saja dengan menantang bahaya, tapi membiarkan misteri sumur tua Trenggalek ini terkubur justru akan membahayakanku lebih jauh.

Bermodal cangkul kecil dan keberanian yang dipaksakan, aku berjalan menuju area belakang rumah. Area ini jarang terjamah. Rumput ilalang setinggi pinggang tumbuh liar, menyembunyikan tanah yang lembap dan licin. Di pojok paling ujung, di bawah naungan pohon nangka besar yang daunnya rimbun mencekam, terdapat sumur tua itu.

Bibir sumur tua Trenggalek terbuat dari batu kali yang disusun kasar, kini sudah tertutup lumut hijau tebal. Aura di sini berbeda. Jika di dalam rumah hawanya dingin menusuk, di sini hawanya panas dan berat. Dadaku sesak, seolah oksigen di sekitarnya menipis. Ini adalah pusat energi negatif, titik nol dari segala gangguan supranatural yang kualami.

Penggalian yang Mencekam

Proses penggalian tanah di dekat sumur untuk mengungkap misteri sumur tua Trenggalek
Proses penggalian tanah di dekat sumur untuk mengungkap misteri sumur tua Trenggalek

Aku mulai membersihkan semak-semak di sekitar bibir sumur. Tiba-tiba, angin kencang berhembus entah dari mana, membuat pohon nangka di atasku bergoyang hebat. Kretek... kretek... Suara dahan patah terdengar nyaring, disusul suara tawa cekikikan yang seolah berasal dari dalam sumur tua Trenggalek.

"Hihihi... Jangan diambil..."

Suara itu. Suara wanita semalam.

Tanganku gemetar memegang cangkul, tapi aku tidak boleh mundur. Mata batinku menangkap pendar cahaya merah samar yang memancar dari tanah di sisi timur sumur. Di situlah letaknya. Dengan napas tertahan, aku mulai menggali tanah merah yang basah itu.

Baru sedalam dua jengkal, cangkulku membentur sesuatu yang keras namun bukan batu. Dug.

Jantungku berdegup kencang. Perlahan, aku menyingkirkan tanah dengan tangan kosong. Bau busuk yang menyengat langsung menyeruak keluar, bau bangkai bercampur kemenyan bakar. Dan di sana, terkubur sebuah bungkusan.

Benda itu terbungkus kain putih lusuh yang sudah kecokelatan karena tanah. Kain kafan. Ukurannya kecil, seukuran lengan bayi, diikat di tiga bagian layaknya bungkusan kain kafan pocong mini.

Benda Keramat Peninggalan Leluhur

Penemuan bungkusan kain kafan berisi benda keramat yang menjadi kunci misteri sumur tua Trenggalek
Penemuan bungkusan kain kafan berisi benda keramat yang menjadi kunci misteri sumur tua Trenggalek

Aku mengangkat bungkusan itu dengan tangan gemetar. Beratnya tidak wajar. Saat aku merabanya, terasa ada benda keras di dalamnya. Insting indigoku berteriak keras: JANGAN DIBUKA! Tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya.

Perlahan, aku membuka ikatan tali pocong yang sudah lapuk itu. Isinya membuat darahku berdesir ngeri.

Di dalamnya terdapat tulang belulang kecil mungkin tulang ayam atau hewan lain yang dililit dengan rambut panjang manusia. Di sela-sela tulang itu, terselip sebuah foto hitam putih yang sudah buram. Foto seorang wanita cantik dengan kebaya lawas, wanita yang sama dengan sosok penari yang kulihat di dapur!

Di balik foto itu, tertulis aksara Jawa kuno dengan tinta merah yang sudah memudar. Aku tidak bisa membacanya dengan jelas, tapi energi jahat yang memancar dari tulisan itu begitu kuat hingga membuat kepalaku pening seketika.

Ini adalah rajah. Sebuah media pengikat perjanjian. Ternyata benar kata Pak Slamet, ada perjanjian lama yang dibuat di sini. Mbah Sastro, kakekku, mungkin pernah "mengikat" sosok penari ini untuk menjaga rumah atau kebun, namun perjanjian itu tidak diakhiri dengan benar saat beliau meninggal. Akibatnya, sosok itu terperangkap, marah, dan menuntut pembebasan.

Serangan Balik Sang Penunggu

Saat aku memegang benda itu, langit yang mendung tiba-tiba bergemuruh dahsyat. Petir menyambar tak jauh dari tempatku berdiri. JGEEERRR!!
Hawa panas di sekitar sumur tua Trenggalek berubah menjadi angin puting beliung kecil yang menerbangkan daun-daun kering. Di tengah pusaran angin itu, sosok wanita penari itu muncul lagi. Kali ini dia tidak diam. Wajahnya marah. Matanya yang hitam pekat melotot, dan mulutnya menganga lebar mengeluarkan jeritan yang memekakkan telinga, meski tak bersuara secara fisik.
"KEMBALIKAN!!" teriaknya di dalam kepalaku.
Tubuhku terpental ke belakang seolah didorong tangan raksasa tak terlihat. Bungkusan pocong itu terlempar dari tanganku. Aku jatuh terduduk di tanah becek, napasku sesak. Sosok itu melayang mendekat, kuku-kukunya yang panjang siap mencabik.
Aku sadar, aku telah membangunkan macan tidur. Menemukan benda ini bukan akhir dari misteri sumur tua Trenggalek, melainkan pemicu kemarahan yang lebih besar. Aku harus segera melakukan sesuatu, atau nyawaku akan menjadi tumbal berikutnya untuk menggantikan perjanjian yang rusak ini.
Aku harus mencari bantuan. Pak Slamet. Hanya dia yang mungkin tahu cara melakukan ritual pembersihan untuk memutus ikatan terkutuk ini.

(Bersambung ke Part 4 - Tamat)

KOMENTAR NETIZEN 0 Komentar

Ingin ikut berdiskusi tentang cerita ini?

Login Dulu!

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini!