← KEMBALI KE BERANDA

Teror Penunggu Rumah Trenggalek: Jangan Buka Pintu Ini!

Leony M
Leony M PERINTIS
Login untuk simpan cerita
Suasana mencekam lorong rumah saat terjadi teror penunggu rumah Trenggalek di malam hari
AUDIOBOOK MODE Klik putar untuk mendengarkan cerita...
Napas-ku masih memburu hebat setelah insiden di dapur itu. Panci yang jatuh dan seringai sosok wanita penari itu masih membekas jelas di ingatan, seolah tercetak permanen di retina mata batinku. Aku berlari kembali ke kamar, mengunci pintu, dan meringkuk di balik selimut. Malam itu, teror penunggu rumah Trenggalek benar-benar menunjukkan eksistensinya tanpa basa-basi.
Sebagai seorang indigo, aku sudah sering melihat makhluk astral. Namun, entitas di rumah warisan Ayah ini berbeda. Energinya tua, purba, dan sangat dominan. Ia tidak sekadar menumpang; ia merasa memiliki tempat ini. Rasanya seperti aku adalah tamu tak diundang yang masuk ke wilayah kekuasaannya tanpa permisi. Sepanjang sisa malam, aku tidak bisa memejamkan mata. Hawa dingin terus merambat naik dari sela-sela pintu kamar, membawa aroma melati busuk yang menyengat, sebuah tanda khas bahwa teror penunggu rumah Trenggalek sedang mengintai dari balik dinding.

Jejak Tanah Basah di Ruang Tamu

Bukti fisik teror penunggu rumah Trenggalek berupa jejak tanah aneh di lantai tegel
Bukti fisik teror penunggu rumah Trenggalek berupa jejak tanah aneh di lantai tegel

Pagi datang membawa sedikit kelegaan, meski matahari Trenggalek yang hangat tidak mampu mengusir sepenuhnya hawa lembap di dalam rumah. Aku memberanikan diri keluar kamar, berharap kejadian semalam hanyalah halusinasi akibat kelelahan pindahan. Namun, harapanku pupus seketika saat kakiku melangkah ke ruang tamu.

Di atas lantai tegel yang kemarin sudah kusapu bersih, kini terdapat jejak-jejak tanah merah yang basah. Jejak itu aneh. Ukurannya kecil, seperti kaki anak kecil, namun tumitnya panjang tidak wajar. Jejak itu berawal dari pintu depan yang terkunci rapat, memutar di tengah ruangan, lalu berakhir tepat di depan pintu kamarku.

Darahku berdesir hebat. Ini bukan sekadar gangguan visual atau suara. Teror penunggu rumah Trenggalek ini sudah bermanifestasi ke fisik. Mereka bisa menyentuh benda, menjatuhkan panci, dan sekarang meninggalkan jejak. Aku mencoba membersihkannya dengan kain pel, namun anehnya, noda tanah itu sulit sekali hilang, seolah minyak yang menempel kuat. Sambil mengepel, aku terus merapalkan doa, mencoba membuat semacam pagar gaib sederhana untuk melindungi diriku sendiri, meski aku tahu kekuatanku mungkin tak sebanding dengan energi besar yang bersemayam di sini.

Jejak tanah ini adalah pesan. Sebuah peringatan bisu bahwa wilayah ini sudah diklaim, dan aku harus segera angkat kaki jika tidak ingin hal yang lebih buruk terjadi. Tapi kemana aku harus pergi? Rumah ini satu-satunya tempat tinggalku sekarang.

Peringatan dari Pak Slamet

Pak Slamet memberikan peringatan tentang bahaya teror penunggu rumah Trenggalek kepada Leony
Pak Slamet memberikan peringatan tentang bahaya teror penunggu rumah Trenggalek kepada Leony

Siang harinya, aku memutuskan untuk menyapu halaman depan yang penuh daun kering. Saat itulah, seorang pria paruh baya dengan caping lusuh berhenti di depan pagar. Dia menatapku lama, lalu menatap atap rumah joglo ini dengan pandangan nanar.

"Mbak baru pindah?" tanyanya tanpa senyum. "Iya, Pak. Saya Leony, cucunya Mbah Sastro," jawabku mencoba ramah.

Pria itu, yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Pak Slamet, penjaga kebun durian di sebelah, langsung berubah raut wajahnya saat mendengar nama kakekku. Dia melangkah mendekat, setengah berbisik.

"Hati-hati, Mbak. Rumah ini sudah lama kosong. 'Mereka' yang di dalam tidak suka keramaian," ujarnya penuh arti.

Aku langsung menangkap sinyal itu. "Bapak tahu sesuatu tentang rumah ini? Semalam saya dengar gamelan."

Pak Slamet terdiam sejenak, matanya melirik ke arah jendela kamar utara yang tertutup rapat. "Gamelan itu tanda 'dia' sedang senang, Mbak. Atau sedang lapar. Dulu, Mbah Sastro punya... kebiasaan. Ada perjanjian lama yang mungkin belum tuntas."

Dia tidak menjelaskan lebih lanjut, tapi kata-katanya cukup membuatku paham. Teror penunggu rumah Trenggalek ini bukan kebetulan. Ini adalah warisan. Sesuatu yang ditinggalkan oleh leluhuku sendiri. Pak Slamet buru-buru pamit seolah takut terlihat lama-lama berbicara denganku di depan rumah itu. Ia meninggalkan aku dengan ribuan pertanyaan dan rasa takut yang semakin menjadi-jadi akan teror penunggu rumah Trenggalek yang kini terasa semakin nyata.

Mimpi Buruk yang Terasa Nyata

Leony mengalami tindihan saat puncak teror penunggu rumah Trenggalek di malam kedua
Leony mengalami tindihan saat puncak teror penunggu rumah Trenggalek di malam kedua
Malam kedua datang lebih cepat dari yang kuharapkan. Setelah peringatan Pak Slamet, aku menutup semua gorden dan memastikan setiap celah terkunci. Pukul sebelas malam, rasa kantuk yang berat tiba-tiba menyerangku secara tidak wajar. Mataku terasa lengket, memaksa tubuhku untuk rebah.
Aku tertidur, namun pikiranku tetap sadar. Sleep paralysis atau tindihan. Aku tidak bisa menggerakkan ujung jari sekalipun. Dadaku sesak luar biasa seolah ada batu besar yang menimpaku. Dalam kondisi antara sadar dan tidak itu, aku melihatnya lagi.
Pintu kamarku terbuka perlahan. Kriet...
Dari kegelapan lorong, sosok wanita penari itu masuk. Kali ini dia tidak menari. Dia merangkak. Dengan gerakan patah-patah seperti laba-laba, dia merayap naik ke atas kasurku. Wajahnya yang pucat kini berada tepat beberapa inci di depan wajahku. Aku bisa mencium bau tanah kuburan yang menyengat dari napasnya.
"Jangan... pergi..." bisiknya dengan suara parau yang terdengar seperti gesekan dua batu kali.
Air mataku menetes, tapi aku tidak bisa berteriak. Teror penunggu rumah Trenggalek ini sedang menyerap energiku. Aku bisa merasakan nyawaku perlahan disedot, membuat tubuhku semakin lemas. Sosok itu menyeringai lagi, memperlihatkan gigi-giginya yang hitam runcing.
Tiba-tiba, dia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berkata, "Cari... di... sumur... belakang..."
Sentakan energi yang kuat membuatku terbangun seketika. Napasku putus-putus, keringat dingin membasahi seluruh piyama. Jam menunjukkan pukul 03.00 pagi tepat. Suara gamelan itu terdengar lagi, kali ini lebih pelan, seolah menjauh ke arah halaman belakang.
Pesan itu terngiang jelas. Sumur belakang. Ada apa di sana? Apakah sumber dari segala teror penunggu rumah Trenggalek ini terkubur di tempat itu? Rasa takutku masih ada, tapi rasa penasaran mulai mengalahkan logikaku. Jika aku ingin menghentikan ini, aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu kakekku.
Besok, aku akan ke sumur itu. Meski hatiku berteriak bahwa itu ide buruk.

(Bersambung ke Part 3)

KOMENTAR NETIZEN 0 Komentar

Ingin ikut berdiskusi tentang cerita ini?

Login Dulu!

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini!