Teror Penunggu Rumah Trenggalek: Jangan Buka Pintu Ini!
Jejak Tanah Basah di Ruang Tamu
Pagi datang membawa sedikit kelegaan, meski matahari Trenggalek yang hangat tidak mampu mengusir sepenuhnya hawa lembap di dalam rumah. Aku memberanikan diri keluar kamar, berharap kejadian semalam hanyalah halusinasi akibat kelelahan pindahan. Namun, harapanku pupus seketika saat kakiku melangkah ke ruang tamu.
Di atas lantai tegel yang kemarin sudah kusapu bersih, kini terdapat jejak-jejak tanah merah yang basah. Jejak itu aneh. Ukurannya kecil, seperti kaki anak kecil, namun tumitnya panjang tidak wajar. Jejak itu berawal dari pintu depan yang terkunci rapat, memutar di tengah ruangan, lalu berakhir tepat di depan pintu kamarku.
Darahku berdesir hebat. Ini bukan sekadar gangguan visual atau suara. Teror penunggu rumah Trenggalek ini sudah bermanifestasi ke fisik. Mereka bisa menyentuh benda, menjatuhkan panci, dan sekarang meninggalkan jejak. Aku mencoba membersihkannya dengan kain pel, namun anehnya, noda tanah itu sulit sekali hilang, seolah minyak yang menempel kuat. Sambil mengepel, aku terus merapalkan doa, mencoba membuat semacam pagar gaib sederhana untuk melindungi diriku sendiri, meski aku tahu kekuatanku mungkin tak sebanding dengan energi besar yang bersemayam di sini.
Jejak tanah ini adalah pesan. Sebuah peringatan bisu bahwa wilayah ini sudah diklaim, dan aku harus segera angkat kaki jika tidak ingin hal yang lebih buruk terjadi. Tapi kemana aku harus pergi? Rumah ini satu-satunya tempat tinggalku sekarang.
Peringatan dari Pak Slamet
Siang harinya, aku memutuskan untuk menyapu halaman depan yang penuh daun kering. Saat itulah, seorang pria paruh baya dengan caping lusuh berhenti di depan pagar. Dia menatapku lama, lalu menatap atap rumah joglo ini dengan pandangan nanar.
"Mbak baru pindah?" tanyanya tanpa senyum. "Iya, Pak. Saya Leony, cucunya Mbah Sastro," jawabku mencoba ramah.
Pria itu, yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Pak Slamet, penjaga kebun durian di sebelah, langsung berubah raut wajahnya saat mendengar nama kakekku. Dia melangkah mendekat, setengah berbisik.
"Hati-hati, Mbak. Rumah ini sudah lama kosong. 'Mereka' yang di dalam tidak suka keramaian," ujarnya penuh arti.
Aku langsung menangkap sinyal itu. "Bapak tahu sesuatu tentang rumah ini? Semalam saya dengar gamelan."
Pak Slamet terdiam sejenak, matanya melirik ke arah jendela kamar utara yang tertutup rapat. "Gamelan itu tanda 'dia' sedang senang, Mbak. Atau sedang lapar. Dulu, Mbah Sastro punya... kebiasaan. Ada perjanjian lama yang mungkin belum tuntas."
Dia tidak menjelaskan lebih lanjut, tapi kata-katanya cukup membuatku paham. Teror penunggu rumah Trenggalek ini bukan kebetulan. Ini adalah warisan. Sesuatu yang ditinggalkan oleh leluhuku sendiri. Pak Slamet buru-buru pamit seolah takut terlihat lama-lama berbicara denganku di depan rumah itu. Ia meninggalkan aku dengan ribuan pertanyaan dan rasa takut yang semakin menjadi-jadi akan teror penunggu rumah Trenggalek yang kini terasa semakin nyata.
Mimpi Buruk yang Terasa Nyata